A.
PENGERTIAN POTENSIOMETRI
Potensiometri
adalah metode analisa kimia untuk menentukan potensial listrik dengan
menggunakan elektroda, dan alat yang digunakan dalam potensiometri ini
adalah potensiometer. Potensiometri merupakan aplikasi langsung dari persamaan
Nernst dengan cara pengukuran potensial dua elektroda tidak terpolarisasi pada
kondisi arus nol. Persamaan Nersnt memberikan hubungan antara potensial
relative suatu elektroda dan konsentrasi spesies ioniknya yang sesuai dengan larutan.
Dengan pengukuran potensial reversible suatu elektroda, maka perhitungan
aktivitas atau konsentrasi suatu komponen dapat dilakukuan.
1.
Dasar –
dasar pemeriksaan dengan metode potensiometri
Potensiometri
merupakan salah satu cara pemeriksaan fisik kimia yang menggunakan peralatan
listrik untuk mengukur potensial elektroda, besarnya potensial elektroda ini
tergantung pada kepekatan ion–ion tertentu dalam larutan, karena itu dengan
memakai persamaan Nernst :
E = Eo + K log (c)
Dimana
:
E = sel potensial yang diukur
Eo = konstan selama
pemberian suhu
C = konsentrasi yang ditentukan
K = RT log ( 10 ) / n F
Dimana:
R = gas konstan
T = suhu absolut
F = suhu faraday konstan
N = nomer dari elektron atau diambil
dari satu molekul yang ditentukan
Tetapi dalam
kenyataan ( n ) tidak diperlukan, itu terjadi jika ( n ) merupakan muatan yang
sama dan telah terbentuk menjadi ionic dari yang telah ditentukan. Sehingga
kepekatan ion dalam larutan dapat dihitung langsung dari harga potensial yang
diukur itu.
Potensial
suatu elektroda tidak dapat diukur tersendiri, tetapi dapat ditentukan dengan
menggunakan elektroda indikator dengan elektroda pembanding yang hanya memiliki
harga potensial yang tetap selama pengukuran. Elektroda pembanding yang diambil
sebagai baku international adalah elektroda hidrogen baku. Harga potensial
elektroda ini ditetapkan nol pada kesadahan baku ( H+ ) = 1 M,
tekanan gas H2 = 1 atm dan suhu 25o C, sedangkan gaya
gerak listrik ( GGL ) pasangan elektroda itu diukur dengan bantuan potensiometer
yang sesuai, dan sering digunakan peralatan elektronik ( volt meter ).
2.
Titrasi
potensiometri
Pada
dasarnya setiap titrasi (asam–basa), kompleksiometri, ataupun titrasi redoks
dapat dilakukan secara potensiometri dengan bantuan elektroda indikator dan
elektroda pembanding yang sesuai. Dengan demikian kurva titrasi yang diperoleh
dengan menggambarkan grafik potensial terhadap volume penitran yang ditambahkan
mempunyai kenaikan yang tajam disekitar titik kesetaraan, dari grafik tersebut
dapat diperkirakan titik akhir titrasi. Cara potensiometri cocok untuk
menentukan titik akhir titrasi jika dalam percobaan tidak ada indikator yang
cocok, misalnya saja analisa untuk larutan yang keruh atau bila daerah
kesetaraannya sangat pendek.
Dalam suatu
titrasi potensiometri titik akhir ditemukan dengan menentukan volume yang
menyebabkan perubahan relative besar dalam potensial apabila titran
ditambahakan beberapa metode menyalurkan beberapa data titrasi dapat digunakan
untuk semua reaksi digunakan untuk tujuan titrimetri asam basa, reaksi
pengendapan dan pembentukan kompleks. Dipilih suatu alat elektroda indicator
yang tepat untuk suatu elektroda pembanding seperti kalomel untuk melengkapi
sel titrasi potensiometri dapat digunakan dengan tangan ataupun dengan potensioautomatik
penekanan kurva titrasi secara automatic pada titik akhir.
Dalam
titrasi manual potensial terukur setelah penambahan tiap tetes berurutan dari
titran dan hasil pengamatan digambarkan pada suatu kertas grafik pada volume
titran untuk diperoleh suatu kurva titrasi. Dalam banyak hal, suatu
potensiometer sederhana dapat digunakan, akan tetapi jika tersangkut elektroda
gelas, seperti dalam kebanyakan titrasi asam basa suatu peralatan pengukur
dengan ipedansi masukan tinggi diperlukan suatu adanya tahanan tinggi dari
gelas, digunakan pH meter khusus. pH meter ini digunakan secara meluas untuk
semua jenis titrasi, bahkan dalam hal penggunaannya tidak diwajibkan.
Suatu alur
arah lereng suatu kurva titrasi, yakni perubahan potensial dengan berubahnya
volume (DE/DV) terhadap volume titran. Kurva yang dihasilkan naik sampai suatu
maksimum pada titik ekivalen. Volume pada titik ekivalen ditentukan dengan
menurunkan garis vertikal dan puncak dengan sumbu volume. Ada sedikit
ketidaktentuan dalam menetapkan secara tepat puncak dari kurva semakin kompleks
reaksinya semakin tajam puncaknya dan dengan demikian makin teliti letak titik
ekivalen.
Contoh-contoh reaksi yang simetrik
asam basa redoks dan pengendapan:
- H3O+ + OH- → 2H2O
- Ag+ + CL- → AgCL (s)
- FE2+ + Ce4+ → FE3+ + Ce3+
Untuk reaksi –reaksi demikian, titik
tengah bagian curam dari kurva sesuai dengan titik ekuivalen.
Untuk reaksi-reaksi tidak simetrik
seperti:
2Ag+ + CrO42-Ag2CrO4(s)
dan
Sn2+ +
2Ce4+ Sn4+ + 2Ce3+
Maka titik ekuivalen tidak terletak
pada titik tengah kurva. Potensial pada titik ekuivalen dalam titrasi dari
timah putih (II) (e01 ) dengan ion-ion serum (IV) (eo2)
adalah (2eo1 + eo2 )/3. Demikian
pula, harga maksimal dari DE/DVuntuk suatu reaksi tidak simetrik tidak secara
tepat berhimpit dengan titik ekuivalen.
Ada
kemungkinan untuk menentukan tempat titik akhir dengan cara yang sederhana yang
didasarkan pada data nyata tanpa menggunakan bantuan suatu grafik. Hanya pengamatan
potensial dekat dengan titik ekuivalen yang perlu direkam. Beberapa penambahan
volume tertentu misalkan 0,10 ml dipilih dan sejumlah pengamatan diambil,
berjarak 0,10 ml dan tiap sisi titik ekuivalen. Sebuah contoh diberikan pada
tabel, yang juga memuat harga – harga turunan ke – 1 dan ke – 2. Dapat dilihat
dari harga – harga ke – 2 bahwa kemiringan berubah tanda sehingga melewati nol,
antara 25,00 dan 25,10 ml titran. Volume pada saat harga nol dicapai
terlebih dahulu dekat dengan 25,00 daripada 25,10 karena pembacaan sebesar +
120 adalah lebih dekat dengan nol dan pada – 224. Karena, 0,10 ml menyebabkan
perubahan total dalam turunan kedua dari 120 – (-224) = 344, bagian (120
/344)*0,10 ml adalah jumlah perkiraan ml kelebihan dari 25,00 yang diperlukan
untuk membuat turunan kedua mencapai harga nol maka volume yang dihitung pada
titik ekuivalen adalah :
V = 25,00 + 0,10 ()= 25,035
Tabel 1.1
Pembacaan potensial didekat titik kesetaraan
|
Titran (ml)
|
E (mV)
|
DE/DV/0,1 ml
|
DE2/DV2
|
|
24,7
24,8
24,9
25,0
25,10
25,2
25,3
|
210
222
240
360
600
616
625
|
12
18
120
240
16
19
-
|
-
+ 6
+ 102
+ 120
- 224
- 7
-
|
Dengan
modifikasi experimental yang sangat sederhana, harga – harga DE/DV, yaitu
perubahan petensial dengan perubahan volume titran secara langsung dapat diperoleh,
untuk metode ini tidak diperlukan elektrode pembanding. Dua elektroda indikator
dipergunakan tetapi yang satu terpisah dari bagian utama larutan sampai suatu
pengamatan potensial dilakukan. Satu elektroda berada dalam larutan, yang lain
berada didalam pipa kaca kecil yang tercelup dalam larutan itu juga.
Apabila
komposisi larutan didalam dan diluar pipa serba sama susunannya, tidak ada
perbedaan pada potensial diantara elektrode. Akan tetapi, apabila titran
ditambahkan kepada bagian utama larutan : suatu beda potensial timbul, karena
larutan didalam tabung tidak lagi mempunyai susunan yang sama seperti yang
diluar.
3.
Titrasi
Redoks
Untuk
titrasi redoks, biasanya digunakan elektroda platina sebagai elektroda
indikator dan elektroda kalomel jenuh (EKJ) sebagai elektroda pembanding.
Dengan memakai pasangan elektroda ini, kurva titrasi yang didapatkan dari
percabangan akan bergeser sebanyak 0,24 V dari kurva teoritis dan juga dalam
titrasi redoks tidak menimbulkan masalah yang serius.
4.
Titrasi
Pengendapan
Pada titrasi
pengendapan, elektroda perak sering digunakan sebagai elektroda indikator,
misalnya ion – ion klorida, bromida, iodida, sianida, tiosianat, sulfida dan
senyawa – senyawa organik yang mempunyai gugus sufhidril sehingga dapat
dititrasi dengan larutan baku AgNO3 dengan memakai elektroda perak
sebagai elektron indikator dan sebagai elektron pembanding dapat digunakan
Hg/HgSO4, sebab dengan menggunakan elektron tersebut kesalahan yang
mungkin akan terjadi akan kecil jika dibandingkan dengan menggunakan elktron
pembanding EKJ, sebab elektroda ini mengandung larutan KCl jenuh serta ion –
ion chlorida.
USP XX menggunkan indikasi potensiometri pada titrasi pengendapan penentuan
kloroda dalam injeksi besi – dekstran. Larutan diasamkan dengan asam nitrast
0,1 molar. Elektroda ukur adalah elektroda perak , elektroda pembanding adalah
elektroda kalomel. Pada titrasi ini pertama – tama ion perak diendapkan sebagai
perak klorida dan konsentrasi ion perak ditentukan melalui hasil kali kelarutan
. Dalam hal ini potensial tetap konstan . Pada titik ekuivalen potensial akan
bertambah dengan bertambahnya konsentrasi ion perak. Sampai saat ini banyak
dikembangkan sebagai metode untuk analisis ion klorida seperti kalorimetri,
potensiometri dengan menggunakan elektroda selektif ion florida, elektrolilis
kapiler kapiler (CE), kromatografi ion 1910. elektroda selektif ion (EST)
dan gc. Merupakan metode yang paling banyak digunakan untuk ketentuan florida
dalam berbagai matriks disbanding GC ESI memiliki kelemahan dalam hal
sansitivitasnya. Karena pada konsentrasi rendah, GC lebih baik dari pada
potensiometrik, menggunakan Esi florida metode ini selanjutnya diaplikasikan
untuk analisis florida dalam bahan baku obat, hal ini tergantung dari produksi
atau sintesanya. Penentuan kadar florida dalam bahan baku obat diperlukan untuk
mengontrol sejauh mana kandungan florida dalam sample tersebut, kadar – kadar
yang ditemukan melebihi kadar yang diijinkan seperti dalam
formakope,kromatografi gas merupakan metode yang sederhana, cepat dan memiliki
presisi dan akurasi yang tinggi untuk analisis kuantitatif florida dalam
konsentrasi rendah. Metode ini dapat di terapkan untuk analisis kuantitatif
florida. Metode ini dapat diterapkan untuk analisis bahan baku obat seperti
kalsium askorbat,kalsium karbonat.
Bermacam
reaksi titrasi dapat diikuti dengan pengukuran potensiometri. Reaksinya harus
meliputi penambahan atau pengurangan beberapa ion yang sesuai dengan jenis
elektrodanya. Potensial diukur sesudah penambahan sejumlah kecil volume titran
secara berturut – turut atau secara kontinu dengan perangkat automatik. Presisi
dapat dipertinggi dengan sel konsentrasi.
a.
Reaksi
netralisasi (Titrasi asam basa dapat diikuti dengan elektroda indikatornya
elektroda gelas).
b.
Reaksi pembentukan
kompleks dan pengendapan
c.
Pembentukan
endapan atau kompleks akan membebaskan ion terhidrasi dari larutan. Biasanya
digunakan elektroda Ag dan Hg. Berbagai logam dapat dittrasi dengan EDTA.
d.
Reaksi
redoks
Elektroda Pt
atau elektroda inert dapat digunakan pada titrasi redoks. Oksidator kuat (KMnO4,
K2Cr2O7, Co(NO3)3)
membentuk lapisan logam oksida yang harus dibebaskan dengan reduksi secara
katoda dalam larutan encer.
Terdapat dua
metode yang digunakan dalam melakukan pengukuran eksperimen. Pertama, dilakukan
pengukuran tunggal terhadap potensial itu: ini cukup untuk menetapkan aktivitas
ion yang diminati. Kedua, ion itu dapat dititrasi dan potensialnya diukur
sebagai fungsi volume titran. Metode pertama disebut potensiometri langsung dan
terutama telah digunakan dalam pengukuran pH larutan air.
a. Potensiometri Langsung
Potensiometri
langsung adalah penetapan pH dari larutan air. Istilah pH didefinisikan oleh
Sorensen pada tahun 1909 sebagai negative logaritma dari konsentrasi ion
hydrogen. EMF pada sel galvanic yang digunakan untuk mengukur pH lebih
tergantung pada aktivitas ion hydrogen daripada konsentrasi. Jadi, definisi pH
didefinisikan sebagai :
pH = – log [H+]
Definisi ini memuaskan dari segi teoritis, namun kuantitas itu tidak dapat
diukur secara eksperimen. Tidak ada jalan untuk mengukur aktivitas spesies ion
tunggal itu secara tidak arti (dalam istilah termodinamika bahwa pH berbanding
langsung dengan kerja yang dibutuhkan untuk menstranfer ion hydrogen secara
reversible dari suatu larutan yang sedang diuji ke larutan yang aktivitas ion
hidrogennya ditransfer tanpa sekaligus mentrasfer ion negative).
Kuantitas
yang diukur secara potensiometri sebenarnya bukanlah konsentrasi dan bukan pula
aktivitas ion hidrogen. Oleh karena itu, lebih disukai untuk mendefinisikan
pH sebagai EMF sel yang digunakan untuk pengukuran itu.
Misalnya diandaikan bahwa sel semacam itu terdiri dari elektroda
pembanding yang sesuai dan dihubungkan oleh jembatan garam kelarutan yang
ditangani, dimana dicelupkan suatu elektroda hidrogen.
Persamaan yang menghubungkan
potensial sel ini dengan pH adalah :
E – Emf – 0,095 pH
Sebenarnya
persamaaan ini harus berisi suku Ej potensial pertemuan cairan, yang mungkin
kecil jika jembatan garamnya tetap, namun tidaklah nol. Jadi, persamaan
tersebut diatas seharusnya adalah :
E = Emf – 0,095 pH + Ej
Dengan Emf adalah potensial elektroda pembanding. Bila Eref + Ej disebut K,
maka persamaan ini menjadi :
E = K – 0,095 pH atau pH -
Persamaan diatas mengandung dua pH dan K. Oleh karena itu,tidak dapat digunakan
untuk mencari nilai kedua kuantitas itu.
Nasional
Bureu of Standart menetapkan pH buffer – buffer tertentu dengan mengukur secara
seksama sel – sel pilihan dengan menggunakan pengandaian yang masuk akan
mengenai koefisien aktivitas. Tabel dibawah ini berisi beberapa contoh buffer
yang direkomendasikan oleh biro itu.
Tabel 1.2 Nilai pH dari buffer
standart NBS
|
KOMPOSISI
|
PH :
25oC
|
PH :
30oC
|
PH:
40oC
|
|
KH2(C2O4)2.2H2O
(0,05 M)
|
1,68
|
1,69
|
1,7
|
|
KHC4O6 (satuan atmosfer 250 C)
|
3,56
|
3,55
|
3,54
|
|
KHC8N4O4 (0,05 M)
|
4,91
|
4,01
|
4,03
|
|
KH2PO4 (0,025 M) + Na2HPO4
(0,025)
|
6,86
|
6,85
|
6,84
|
|
Na2B4O7 .10 H2O
(0,001 M)
|
9,18
|
9,14
|
9,07
|
|
Ca(OH)2 (satuan atmosfer 250 C)
|
12,45
|
12,3
|
11,99
|
b. Persamaan
skala pH
Dengan menggunakan :
E – K – 0,059 pH
Dengan
menggunakan buffer tunggal. Tetapi suku K tidaklah benar – benar konstan
sepanjang jangkauan pHnya yang lebar, terutama karena perubahan komposisi
larut. Oleh karena itu, direkomendasikan bahwa suatu standart pH dipilih yang
dekat nilainya dengan pH larutan.
Pengukuran
potensiometri secara langsung adalah sangat berguna untuk menentukan aktivitas
suatu macam zat didalam suatu campuran yang berkesetimbangan, karena
keseimbangan tidak terganggu oleh pengukuran. Misal pH suatu larutan 0,1 F asam
asetat dapat diukur dan konsentrasi ion hidrogen (dapat diperkirakan dari
aktivitas) ditemukan sejumlah 0,0013 M. Sebaliknya jika larutan dititrasi kita
akan menemukan bahwa konsentrasinya adalah 0,1 M. Titrasi menghasilkan
keterangan stoikiometri tentang jumlah proton yang tersedia, sedangkan
pengukuran langsung memberi aktivitas keseimbangan dari proton di dalam larutan
setiap saat.
Karena
adanya hubungan logaritmik dari potensial terhadap aktivitas, penentuan dengan
potensiometrik secara langsung biasanya tidak sangat teliti kecuali kalau
pengukuran istimewa dilakukan. Dengan menggunakan angka-angka dalam persamaan
NERST dengan mudah terlihat bahwa kesalahan seetingkat beberapa persen dalam
suatu aktivitas ion mungkin terjadi dari suatu kesalahan 1 mV pada pengukuran
potensial.
5.
Titrasi asam basa
Bidang
penggunaan utama potensiometri adalah indikasi titik ekivalen pada
titrasi asam basa menggunakan elektroda gelas. Petunjuk titik akhir ini mungkin
dilakukan dalam larutan berwarna , larutan keruh atau ;larutan oksidator kuat.
Penentuan
simultan senyawa fosfat. Contohnya dalam penentuan kadar dan pemeriksaan
pemurnian natrium fosfat dalam pH juga natrium fosfat dan larutan oral dalam
USP XX. Cuplikan ditambah sejumlah asam klorida tertentu dan titrasi dengan
natrium hidroksida sampai titik akhir pertama dengan pH 4,4. Kemudian
titrasi dilanjutkan sampai titik akhir kedua. Dari jumlah asam klorida yang
ditambahkan dan jumlah natrium hodroksida yang digunakan pada kedua tahap,
kasar natrium hidroksida fosfat dan natrium monohodropgen fosfat dapat dihitung
6.
Elektroda
Indikator
Elektroda
indikator berfungsi sebagai pengukuran secara potensiometer yang terdiri atas
dua dua jenis yaitu :
- Elektroda Indikator membrane.
- Elektroda Indikator logam.
a.
Elektroda
Indikator Membran
Elektroda
membran pada dasarnya berbeda dari elektroda logam. Tak ada electron yang
diberikan oleh, atau kepada, membrane itu. Sebagai gantinya suatu membrane
membiarkan ionion jenis tertentu menembusnya, namun melarang ion lain.
Elektroda kaca, yang digunakan untuk menetapkan pH, merupakan contoh elektroda
membrane yang paling meluas dikenal oreng.
Macam-macam elektroda idikator
membrane :
- Elektroda kaca untuk pengukuran pH
- Elektroda kaca yang selaktif-ion
- Elektroda mambran cairan
- Elektroda zat padat dan pengendapan
b.
Elektroda
Indikator Logam
Elektroda indikator merupakan bagian penting dari peralatan potensiometer,
karena itu elektroda indikator harus memenuhi berbagai persyaratan, salah satu
persyaratan penting yang harus dipenuhi adalah tanggapannya terhadap keaktifan
bentuk teroksidasi dan bentuk tereduksi harus sedekat mungkin dengan yang
diramalkan dengan persamaan nernst. Salah satu elektroda yang memenuhi
persyaratan yang demikian adalah elektroda logam perak . Reaksi elektroda ini
adalah sebagai berikut : ( Ag+ + e- = Ag ), sedangkan
potensial elektroda elektroda ini mengikuti persamaan nernst sebagai berikut :
EAg+/Ag = EoAg+/Ag
+ 0,059 log ( Ag+ )/(Ag)
Dalam hal
ini yang dapat tereduksi adalah logam itu sendiri yang berada dalam keadaan
bakunya ( a=1 ), tetapi dalam pemeriksaan kimia yang sesungguhnya, keaktifan
ion Ag+ dapat diganti dengan kepekaan ion Ag, karena itu dapat
ditulis sebagai berikut :
EAg+/Ag = EoAg+/Ag
+ 0,059 log ( Ag+ )
Persamaan
diatas dapat digunakan untuk menghitung kepekaan ion perak dalam larutan,
dengan syarat potensial dalam elektroda perak dapat diketahui, misalnya,
potensial elektroda perak yang dicelupkan kedalam larutan ion perak telah
diukur dan telah diketahui besarnya + 0,682 V terhadap elektroda hidrogen baku,
untuk menghitung kepekatan ion perak tersebut dalam larutan ( EoAg+/Ag
= + 0,8 V ).
Selain itu
menentukan kadar ion perak, persamaan diatas dapat pula digunakan untuk
menentukan apakah elektroda perak mengikuti persamaan nernst atau tidak,
misalnya potensial elektroda perak yang dicelupkan kedalam dalam larutan AgNO3
0,1 M telah diukur dan telah diketahui besarnya + 0,741 V terhadap elektroda
hidrogen baku. Selain terhadap ion perak, elektroda perak juga mempunyai
tanggapan yang sesuai dengan persamaan nernst terhadap ion-ion yang membentuk
senyawa-senyawa halida (kecuali fluorida) dan beberapa senyawa lain. Hal ini
dapat diterangkan dengan mudah, karena kepekatan ion perak akan dapat ditentukan
ole hasil kali kelarutan senyawa perak yang sukar larut itu dan kepekatan anion
yang terlibat, misalnya, hasil kali kelarutan AgCl di rumuskan sebagai berikut
:
Ksp ,AgCl = ( Ag+ ) ( Cl-
)
( Ag+ ) = Ksp,AgCl/(
Cl- )
Tabel 1. 3 Beberapa elektroda indikator
logam
|
Sistem Elektroda Indikator
|
Ion yang ditentukan
|
|
Ag – Ag+
|
Ag+
|
|
Au – Au3+
|
Au3+
|
|
Pd – Pd2+
|
Pd2+
|
|
Pb – Pb2+
|
Pb2+
|
|
Cd – Cd2+
|
Cd2+
|
|
Zn – Zn2+
|
Zn2+
|
|
Hg – HgCl – Cl-
|
Cl-
|
|
Ag – AgI – I-
|
I-
|
|
Ag – AgBr – Br-
|
Br-
|
|
Ag – AgCl – Cl-
|
Cl-
|
Elektroda indikator
yang terbuat dari logam mulia (Pt, Pd) mempunyai tanggapan yang sesuai dengan
persamaan nernst terhadap beberapa pasangan redoks logam seperti Fe2+/Fe,
Ce4+/Ce2+, tetapi tidak dapat dijadikan pedoman karena
potensial yang diukur bersesuaian dengan pengaruh keseluruhan selektif redoks
yang terjadi didalam system, beberapa contoh elektroda indikator seperti
dibawah ini.
7.
Elektroda
Indikator Selektif – Ion
Disamping
elektroda indikator yang telah disebutkan diatas, elektroda – ion juga banyak digunakan
dalam pemeriksaan kimia adalah elektroda gelas. Elektroda gelas mempunyai
tanggapan potensial yang berbolak balik terhadap ion hidrogen sehingga sering
digunakan untuk pengukuran pH.
Elektroda
gelas ini terdiri dari sebuah bola gelas khusus berdinding tipis didalamnya
terdapat elektroda pembanding yang dicelupkan kedalam larutan penyangga,bila
elektroda gelas ini dicelupkan kedalam suatu larutan yang akan diuji, sehingga
semakin besar kadar ion hidrogen yang masuk kedalam lapisan gelas tadi dan makin
besar kadar ion dalam larutan uji, sehingga semakin banyak pengujian makin
banyak ion hidrogen yang akan masuk kedalam lapisan gelas tersebut dan makin
besar muatan positif elektroda gelas itu secara keseluruhan. Lapisan gelas
tersebut bertindak sebagai selaput yang selektif – ion yang hanya memberikan
proton.
Sifat yang sangat penting dari
elektroda gelas ini adalah bahwa potensialnya mengikuti persamaan nernst
sebagai berikut
Ege + Eoge
+ 0,059 log (H+)
Dalam pemeriksaan yang sesungguhnya,
keaktifan ion hidrogen dapat diganti dengan kepekatan ion hidrogen, sehingga
persamaan diatas menjadi :
Ege = Eoge
+ 0,059 ( H+ )
Untuk
pengukuran yang seksama harus digunakan kurva tera, dalam persamaan diatas, Eo
adalah potensial elektroda baku dari elektroda gelas, tetapi dari Eo
ini berbeda anatara satu elektroda dengan elektroda lainnya, sehingga nilai Eo
tersebut juga beragam dengan waktu, walaupun keragaman ini tidak begitu besar
pengaruhnya.
Ciri lain
dari elektroda adalah potensial yang hampir tidak sama, nilai potensial ini
dapat diukur dengan percobaan asalkan pH larutan dibagian dalam dan dibagian
luar bola gelas bernilai sama. Dalam hal demikian, potensial elektroda gelas
itu sebenarnya sama dengan nol, namun pada kenyataannya selalu diperoleh nilai
potensial yang disebut potensial setangkup selaput gelas tersebut, sehingga
nilai tersebut dapat dimasukkan kedalam nilai potensial elektroda baku jika
nilainya tetap, sehingga tidak perlu ditentukan dalam pemeriksaan kimia yang
sesungguhnya.
Elektroda
gelas merupakan salah satu elektroda selektif – ion yang baik karena
tanggapannya terhadap kepekaan ion hidrogen sama dengan tanggapan yang dihitung
secara teoritis pada rentang kepekaan hidrogen yang cukup luas, dengan demikian
untuk setiap perubahan keaktifan ion hidrogen dapat bernilai sepuluh kali
lipat, potensialnya berubah 0,059 V, sedangkan ion – ion lain seperti
oksidator, koloid dan senyawa–senyawa organik tidak akan mempengaruhi
responnya.
Salah satu
kelemahan elektroda gelas ini adalah, jika adanya kesalahan alkali, yakni
kesalahan timbul karena elektroda gelas juga memberi tanggapan terhadap
kepekatan ion alkali dalam larutan yang bersifat basa. Kesalahan alkali ini
timbul pada harga pH yang tinggi dan pada kepekaan ion logam alkali yang tinggi
(terutama ion natrium). Dalam beberapa hal, kesalahan alkali dapat mencapai
bebe rapa persepuluhan satuan pH, namun sekarang sudah
8.
Elektroda Pembanding
Pada dasarnya, elektroda hidrogen baku merupakan elektroda pembanding yang
utama karena harga potensial elektroda ini dianggap nol, namun elektroda ini
mempunyai banyak kelemahan yang menyebabkan pemakaian alat ini tidak mudah
dalam pemeriksaan kimia yang sesungguhnya, kelemahan alat ini antara lain :
Potensial elektrodanya mudah terkontaminasi oleh senyawa – senyawa yang
lainnya, sepeti oksidator, reduktor, koloid, ion sulfida dan sebagainya, sert
adiperlukan gas hidrogen yang sangat murni (bebas oksigen), dan sulit
dipertahankan dalam keadaan baku, karena itulah elektroda pembanding hanya
untuk pengukuran yang sangat teliti.
Dalam
pemerikasaan kimia yang sebenarnya, lebih sering digunakan elektroda pembanding
yang lain, yaitu Kalomel Jenuh (EKJ). Elektroda ini lebih mudah digunakan untuk
analisa kimia tanggapan serta kemudahan perawatannya didalam laboratorium.
Beberapa contoh elektroda pembanding akan diuraikan berikut ini.
►Elektroda kalomel (calomel
electroda)
Setengah sel elektroda kalomel dapat
ditunjukkan sebagai berikut :
Hg2Cl2
(sat’d), KCL (M)
Potensial
sel ini akan bergantung pada konsentrasi klorida x, dan harga konsentrasi ini
harus dituliskan untuk menjelaskan elktroda.
Elektroda
kalomel jenuh (saturated calomel electrode, SCE) biasanya banyak digunakan oleh
pakar kimia analitik karena banyak tersedia di pasaran dan konsentrasi klorida
tidak mempengaruhi haraga potensial elektroda. Haraga potensial dari SCE adalah
0,244 V pada 25oC dibandingkan terhadap elektroda hydrogen standart.
►Elektroda perak/perak khlorida
Elektroda pembanding
yang mirip dengan elektroda kalomel adalah terdiri dari suatu elektroda perak
yang dicelupkan kedalam larutan KCl yang dijenuhkan dengan AgCl. Biasanya
elektroda ini terbuat dari suatu larutan jenuh atau 3,5 M KCl yang harga
potensialnya adalah 0,199 V (jenuh) dan 0,205 V (3,5 M) pada 25oC.
elektroda ini dapat digunakan pada suhu yang lebih tinggi sedangkan elektroda
kalomel tidak.
9.
Elektroda Membran Cair
Elektroda
ini mempergunakan sebagai membran suatu cairan yang tidak bercampur dengan air
yang akan mengikat ion yang akan ditentukan secara selektif. Misalnya saja
elektroda ion kalsium, yang menggunakan sebuah penukar ion yang mengandung
suatu gugus asam fosfat. Penukarnya mempunyai kecenderungan lebih banyak untuk
mengikat kalsium daripada mengikat kebanyakan kation lain. Penukar cairan
terdapat di antara dua gelas berpori atau membran plastik. Ia memisahkan
larutan uji dari larutan-dalam yang mengandung konsentrasi tertentu dari
kalsium klorida dan elektroda perak-perak klorida.
Alat untuk Pengukuran Potensial sel
Pada
dasarnya pengukuran potensial baterai biasa tidak sulit untuk dilakukan dengan
menggunakan volt meter, akan tetapi pengukuran potensial galvani yang digunakan
dalam potensiometri tidak sederhana, karena kapasitasnya sangat rendah yang
disebabkan oleh besarnya tahanan dalam sel tersebut ( 106 – 107
ohm atau lebih untuk elektroda gelas ), sehingga alat voltmeter elektronik
khusus diperlukan untuk pengukuran potensial elektroda sel tersebut. Alat ukur
khusus ini digunakan sebagai pH meter, voltmeter tahanan tinggi, potensiometer
dan ion meter, alat – alat ini dikocok untuk pengukuran potensial pada sel
galvani yang terdiri dari sebuah elektroda pembanding dan sebuah elektroda
indikator seperti elektroda logam, elektroda selektif – ion atau elektroda
indikator lainnya.
Pengukuran pH dengan Potensiometri
Salah satu
pemakaian analis ametode potensiometer adalah pemakaian potensiometer dalam hal
pengukuran pH larutan, untuk pengukuran pH itu diperlukan sebuah sel galvani
yang tersusun dari sebuah elektroda indikator ( peka terhadap ion hidrogen )
dan sebuah elektroda pembanding potensial sel ini sebanding dengan pH larutan.
Misalnya
sebuah sel yang terdiri dari dua buah elektroda hidrogen, satu sebagai
elektroda indikator dan yang satu sebagai elektroda pembanding. Elektroda
indikator itu dicelupkan kedalam larutan sel galvani, sehingga dapat dirumuskan
sebagai berikut :
Pt, H2 ( 1atm ) [ H+
] = x//[ H+ ] = 1 M H2 ( 1atm ), Pt+
Jika kadar uji larutan kurang dari 1
M ( pH > 0 ), maka elektroda indikator akan bermuatan negatif, sehingga
langsung dari persamaan nernst, potensial sel ini akan menjadi sebagai berikut
:
E = E+ – E-
Sehingga potensial elektroda
hidrogen baku sama dengan nol, E+ = EEHB = 0 dan pada 25 oC
E = Eind = Eoind + 0,059 log H+,
sedangkan Eoind = EEHB = 0, maka :
E = E- = – ( Eind
+ 0,059 log H+ ) = 0,059 atau pH = E/0,059
Persamaan ini memperlihatkan bahwa potensial sel galvani
ini bisa digunakan secara langsung dari penentuan pH suatu larutan yang tidak
diketahui aktivitas ion hidrogen. Cara ini disebut cara potensiometri untuk
penentuan pH, akan tetapi karena banyak kesulitan yang ditemui, maka cara ini
tidak digunakan lagi, meskipun demikian elektroda digunakan dalam penelitian,
seperti untuk pengukuran pH yang sangat teliti untuk penetapan sifat larutan
penyangga pH baku.
Sel yang
sangat penting untuk pengukuran pH dalam pemeriksaan kimia yang sesungguhnya
dilaboratorium terdiri dari sebuah elektroda gelas dan sebuah elektroda kolomel
bagan sel ini dapat ditulis sebagai berikut :
-
Hg, Hg2, Cl/KCl = tetap, [ H+ ] = buffer [ H+
] = x//KCl jenuh / Hg2Cl2, Hg+
Potensial
sel ini sama dengan beda antara potensial positif dan potensial negatif seperti
diatas. Dalam sel EKJ selalu merupakan elektron positif (EKJ) mempunyai
potensial elektroda baku + 0,24 V dan elektroda gelas bermuatan negatif.
Akibat dari persamaan diatas
diperoleh persamaan berikut:
E = {( EEKJ – Eoge
)/ ( Eo )}– 0,059 log [ H+ ] = Eo + 0,059 pH
Atau lebih singkat
PH = E – Eo / 0,059
Persamaan
tersebut serupa dengan persamaan diatas, sehingga dapat digunakan untuk
perhitungan pH larutan uji dengan pengukuran potensiometri, namun nilai Eo
tidak diketahui, seperti diperlihatkan dalam persamaan diatas dimana Eo
adalah beda antara dua tetapan, yaitu Eoge dan EoEKJ,
sebagaimana telah ditegaskan dalam persamaan diatas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar